[FREELANCE] Story About pika-Chu Part 1

Author            : Nenni Iriani a. k. a Shin Neul Ni

Title                 : Story about Pika-Chu

Genre              : Romantic, Friendship, Comedy

Cast                 : Jo Twins, Shin Neul Ni, Hwan Ni Young

Support Cast  : Noh Min Woo and some support fiction character

Length                        : Chapter

Rating : PG

Note                : Fanfic ini udah di posting di BLOG pribadi aku, Boyfriend Fanfiction, dan School of Fanfiction

Ini FF ku yang pertama, jadi maaaaaaaaaaaaaaapppp banget kalo gaje, trus masih ebel :p

KOMEN SANGAT DIBUTUHKAN! Buat masukan lagi nanti kalo aku bikin FF lagi. JANGAN JADI SILENT READER okeh? Gomawo~ :D

Prolog

Selamat pagi dunia! Hoaahhmm… Aku meregangkan badanku sebentar. Pukul 04.45. Aku sengaja bangun pagi agar aku tidak terlambat sekolah hari ini. Yap, hari ini hari pertamaku masuk ke Seoul High School. Aku baru pindah ke Seoul 1 minggu yang lalu. Appa-ku ditugaskan di StarShip Entertainment yang membuat aku dan keluargaku pindah ke sini. Aku sudah tak sabar ingin segera melihat sekolah baruku dan bertemu dengan beberapa teman baru. Semoga hari ini menyenangkan. Hwaiting!

“Neul Ni, apa kau sudah bangun?“ teriak eomma dari luar kamar.

“Ne, eomma!“ jawabku sambil bergegas menuju kamar mandi.

***

“Dimana Jin Wan?” kataku sambil menuruni tangga.

“Mungkin masih mandi,” jawab eomma santai.

“Baiklah kalau begitu, biar aku berangkat sendiri saja,”. Aku malas kalau disuruh menunggu Jin Wan, adik namjaku itu. Dia sangat lamban. Lebih lamban daripada aku. Jadi lebih baik aku berangkat sendiri saja.

“Tapi, ini masih terlalu pagi. Kau tidak mau bersantai dulu? Eomma sudah menyiapkan makanan kesukaanmu,”

“Hmm… tidak usah eomma. Biar aku makan roti gandum saja. Aku tidak mau terlambat sekolah di hari pertamaku ini,” kataku sambil duduk di depan meja makan.

***

Aku bergegas. Jalanan masih sepi dari kendaraan dan orang-orang yang berpergian. Ini masih pukul 06.00, jadi aku masih bisa bermain-main di sekolah nanti. Rumahku memang tidak terlalu jauh dari sekolah, jadi aku cukup berjalan sejauh 500 meter. Aku sudah tidak sabar ingin segera sampai di sekolah dan bertemu dengan teman-teman baru. Semoga saja mereka semua menyenangkan. Tiba-tiba…

Pluk!

KYAAAAAAAAAAAAA!!! Apa ini?!! Apa ini!! Lepaskan!! Lepaskan!! Lepaskan!! Aku berputar-putar tidak karuan ke segala arah. Siapapun, tolong aku!! Lepaskan benda ini dari kepalaku!! KYAAAAAAAAA!!

“Hei! Sudahlah!” suara seseorang mengagetkanku dan tangannya meraih wajahku.

“KYAAAAAAAAAAAA!!!” aku kembali berteriak. Bagaimana tidak!! Sesuatu yang lunak dan berbulu mendarat secara tiba-tiba di kepalaku, dan saat aku membuka mata ada sepasang bola mata yang memandangku dengan jarak satu jengkal dari wajahku. Pagi yang menyebalkan! Aku berharap bisa bersenang-senang hari ini. Tapi begitu melihat apa yang terjadi pagi ini, aku tidak yakin akan melewati hari ini dengan baik. Paginya saja sudah diberi kesialan!

“Menjauh dariku!!!!” dengan tidak sadar, aku mendorongnya menjauh. Kurasa dia terkejut.

“Hei, tenanglah! Lihat ini!” kata suara itu lagi.

Ku beranikan diri untuk membuka mataku. Aku terkejut. Di hadapanku berdiri seorang namja jangkung dengan rambut hitam-kecoklatan dan wajah yang tampan. Deg! Siapa dia? Wajahnya begitu… memesona. Tunggu! Bagaimanapun juga, dia yang telah membuatku berputar-putar seperti orang gila!

“Ini cuma saputangan! Lihat!” kata namja itu sambil mengacungkan sebuah saputangan beludru bergambar Pikachu. Kurasakan wajahku panas. Pagi-pagi begini sudah dihadiahi hal yang memalukan seperti ini? Aku tidak mau terlihat bodoh.

“KAU!! Kau tahu tidak! Kau membuatku terkejut! Untung saja aku tidak punya penyakit jantung! Aku bisa mati muda tahu! Kau mau aku mati muda?!” kataku marah sambil menunjuk hidungnya.

“Itu tidak akan terjadi jika kau termasuk yeoja yang berani!“ jawabnya santai.

“Oh, jadi kau menganggapku penakut, hah?!“ lucu sekali orang ini, bukannya meminta maaf padaku, dia malah meledekku. Orang macam apa dia?

“Kwangmin-ah. Ada apa?”. Tiba-tiba, datanglah dua orang namja yang kukira kami semua sebaya.

“Lihat apa yang kau lakukan! Kau sukses menemukan tempat pendaratan yang pas untuk saputangan Pikachu-ku yang kau lempar tadi. Hampir saja aku dibunuh dengan yeoja ini,” jawabnya sambil menunjuk kepalaku. Aku memelototinya, dia masih saja bisa bercanda.

Kedua namja itu mendekat. Mereka mengamatiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada yang salah?! Ada yang aneh dari penampilanku?!

“Mianhae, aku tidak bermaksud untuk membuatmu terkejut,” kata namja yang berwajah manis. Hmm… aku tidak yakin aku bisa marah padanya. Wajahnya begitu… mengagumkan.

“Sudah, kan? Ayo kita berangkat! Kita bisa terlambat sekolah jika kita masih mengurusi yeoja aneh ini,” kata seseorang berambut pirang yang wajahnya mirip dengan Pikachu ini. Dingin. Eh, apa katanya? Aku aneh?

Mereka berjalan mendahuluiku. Namun, sesaat kemudian namja Pikachu tadi berbalik dan melihat ke arahku. “Aku suka rambutmu!” katanya sambil tersenyum dan segera menyusul kedua temannya. Deg! Aku berdiri mematung. Kurasa aku mengalami kelumpuhan sementara. Aku tidak bisa merasakan otot-otot tanganku. Sesaat kemudian aku baru sadar dengan apa yang ku dengar.

Aku segera mengambil ponsel di dalam tas biru-ku dan bercermin. Betul saja, aku sudah tidak terlihat seperti anak SMA sekarang. Rambut hitam sebahuku berantakan ke segala arah, bajuku kusut, dan rok turquoise selutut-ku miring. Aku lebih terlihat seperti seorang tante-tante klabing yang habis mabuk bersama teman-temannya. Pantas saja, Si Pirang tadi mengatakan aku aneh. Bagus Pikachu, setelah membuat penampilanku berantakan, dia malah meledekku. Bisa-bisa aku terlambat gara-gara hal ini. Aku semakin mempercepat langkahku. Dasar namja menyebalkan! Aku bersumpah, aku tidak mau bertemu dengan kalian lagi!

***

Teng… Teng…

Riuh rendah suara bersahut-sahutan mengiringiku menuju aula. Suasana di sini sangatlah ramai. Murid-murid berseragam yang sama denganku berdesak-desakan masuk ke dalam, padahal pintu aula ini cukup besar. Aku belum berkenalan dengan satu orang pun di sini. Ini semua gara-gara insiden kecil pagi tadi. Coba saja kalau aku tidak bertemu dengan mereka, pasti aku sudah mendapatkan banyak teman.

Pagi yang cukup panjang. Setelah mengikuti pertemuan di aula tadi pagi–yang membahas tentang sejarah pembangunan sekolah, program-nya, dan segala seluk beluk membosankan lainnya yang tidak aku dengarkan dengan baik–sekarang aku sibuk mencari kelas, Kelas X A. Bagus! Aku, Shin Neul Ni, gadis kecil 16 tahun yang belum mengenal apa-apa, sendirian di sekolah yang besar 3 lantai berkapasitas 800 siswa, dan aku HARUS MENCARI KELAS SENDIRIAN DAN HANYA DITEMANI DENGAN SEBUAH PETA KECIL! Ya Tuhan…

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah. Ini sudah ke-tiga kalinya aku berjalan kemari dan aku sudah berulang kali masuk di kelas yang salah. Aku tetap belum bisa menemukan kelas-ku. Sekolah sudah mulai sepi sementara aku hanya berjalan mondar-mandir di depan lorong lobi ini. Aku tahu, sekarang hanya aku sendirian yang kebingungan mencari kelas. Tuhan, tolong bantu aku…

“Mencari kelas juga?”

Aku berbalik dan terkejut. Ya Tuhan, aku berdoa meminta bantuan, bukannya…

“Kau masih marah dengan kejadian tadi?” katanya padaku setelah aku tidak menjawab pertanyaannya. Wajah tampannya semakin kentara ketika menyesal. Hei, apa yang barusan aku katakan?

“Mianhae~ aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Teman-temanku memang suka bercanda. Maafkan mereka juga ya,” katanya tulus. Sejujurnya, aku sudah memaafkan mereka sejak tadi. Wajah tampan mereka terlalu menggoda untuk kumarahi. Tapi tetap saja aku kesal jika aku mengingat kejadian yang menyerangku tadi pagi! Memalukan! Hanya karena sebuah saputangan Pikachu jelek itu! Huh!

“Dengar ya, Pikachu. Kau dan teman-temanmu sudah ku maafkan bahkan sebelum kau meminta maaf. Tapi, untuk sekarang aku belum mau bertemu denganmu!” kataku ketus sambil berkacak pinggang menghadap dirinya.

Lama berselang, tidak ada salah satu pun dari kami berbicara. Dia hanya menatapku dengan mata penuh tanpa berkedip. Aku menjadi canggung, apa aku salah bicara? Apa aku membuatnya sakit hati? Tolong, jangan melihatku seperti itu! Apa yang harus aku lakukan? Bicaralah Pikachu!

“HAHAHAHAHAHAHAHAH!!!”

“Mwo…?” apa aku sudah membuatnya gila? Aku tidak percaya, dia bisa tertawa sehebat itu. Ada yang lucu? Apa aku seperti badut?

“Kau memanggilku apa tadi? Pikachu? Kalau begitu kau kupanggil Pichu! HAHAHAHAHA!“ dia semakin terbahak. Sesaat aku ingin memukulnya dengan palu raksasa agar ia berhenti tertawa. Itu tidak normal!

Pichu itu karakter favoritku di Pokemon! Dia adalah pokemon kecil dan lucu yang dikenal sebagai ‘Tikus Kecil’ versi sebelum evolusi dari Pikachu. Warnanya kuning cerah seperti Pikachu, namun tidak pandai untuk mengendalikan sengatan listriknya, jadi saat dia kaget atau dalam bahaya dia bisa saja mengeluarkan listriknya yang dapat membahayakan orang-orang di sekitarnya. Tunggu… apa aku seperti Pichu? Itu tidak lucu!

“Hahahaah.. ehe.. ehe… tidak lucu ya? Mian~ aku hanya ingin membuatmu tersenyum. Ternyata mereka benar, aku memang tidak pandai melucu,” jawabnya sambil memasang wajah datar.

“Sudahlah! Kita hampir telat kau tahu!” kataku sambil berbalik dan mulai berjalan.

“Hei, Pichu! Tunggu aku! Lebih baik kita mencari bersama. Aku juga sedang mencari kelas. Bagaimana?“

Dia benar. Daripada aku kebingungan seperti orang gila yang berputar-putar sendirian di sekolah ini, lebih baik aku ditemani. Toh, dia juga sedang mencari kelas, kan? Dia, kan ada di sini bersamaku.

“Terserah,” jawabku. Dia terlihat senang sekali. Dia langsung berjalan di sampingku. Aku baru menyadari aku sangat pendek ketika disejajarkan dengannya. 162 cm itu belum cukup tinggi ya?

“Baiklah, Pichu. Sekarang apa kelasmu?“

“X. A” jawabku pendek sambil memperhatikan peta jelek ini. Sungguh, ini tidak membantu! Aku tidak bisa membaca arah!

“X. A? Aku tahu dimana kelasmu! Ayo ikuti aku! Kkaja!” dia berjalan mendahuluiku.

Lama sekali kami berjalan mengitari sekolah. Kami naik ke lantai 2, turun lagi ke lantai 1, melewati lapangan, melewati taman di belakang sekolah, lalu berjalan lagi ke lobi, namun kami tidak segera sampai. Aku menyadari ada yang salah di sini. Aku mulai kesal lagi. Sungguh, namja Pikachu ini senang sekali membuatku kesal!

“Sebenarnya kau tahu tidak, sih, di mana kelas-ku berada?” kataku dengan sedikit kesal. Aku lelah mengikutinya tahu!

“Ne. Kenapa? Kau lelah? Mian~” dia berbalik dan memasang wajah itu lagi! Wajah yang penuh penyesalan. Deg!

“Gwaenchansseumnida. Aku terbiasa berjalan jauh. Tapi katakan yang sejujurnya, apa kau tahu di mana kelasku?“

“Ne. Di sini,” katanya jahil sambil menunjuk sebuah kelas. Di pintunya terpasang plang bertuliskan ‘X. A‘. Babo!

Aku ingin marah lagi. Dia sudah mengajakku berkeliling sekolah dan ternyata kelas-ku ada di sini! Di belakang lobi! Aku hanya perlu menyusuri lobi ini dan berbelok ke kanan! Apa?! Aku merasa sangat bodoh!

“Kau! Mengapa kau tidak mengatakannya daritadi?!” aku mulai kesal lagi.

Dia tersenyum, “Sengaja. Agar aku bisa berjalan berdua denganmu,”

Deg! Kurasakan wajahku memerah.

“Mengapa kau ingin melakukannya?! Kau tahu, kita sudah terlambat 15 menit! Bisa-bisa kita dimarahi guru!” aku menyerah. Namja ini sungguh menyebalkan.

“Agar aku bisa melihat apa kau sudah memaafkanku atau belum. Sepertinya kau sudah memaafkanku,”

“Ya, itu tadi! Sekarang aku marah lagi padamu! Kita bisa telat tahu! Aku tidak mau terlambat di hari pertamaku bersekolah di sini,”

“Hahahaa.. apa kau tidak mendengarkan kepala sekolah Ho Wan tadi?”

“Ani… memang apa yang dikatakannya?”

“Kau ini… kepala sekolah mengatakan bahwa hari ini tidak ada kegiatan belajar mengajar. Hari ini dipakai untuk perkenalan saja. Semacam masa orientasi, deh,“

Aku melongo. Ini akibatnya kalau kau tidak mendengarkan dengan baik. Aku mengutuk diriku dalam hati.

“Lalu, apa yang ingin kau lakukan sekarang hah? Aku sudah menemukan kelasku, sebaiknya kau juga mencari kelasmu. Sudah sana, pergi! Gamsahapnida!” kataku sedikit ketus sambil membungkuk sekali kepadanya.

Tidak peduli apakah Pikachu balas membungkuk atau tidak, aku memilih untuk menghindarinya. Aku segera masuk ke dalam kelas yang besar itu. Bau yang sangat asing di sini. Aku harus lebih beradaptasi lagi. Tembok dengan wallpaper biru langit–sama seperti warna tas yang ku bawa–, dua buah pendingin ruangan, satu papan tulis yang baru lengkap dengan peralatannya, sebuah proyektor, dan meja dan kursi berwarna kayu cerah melengkapi kelas ini. Suasana di kelas sangat ramai. Benar kata Pikachu tadi, tidak ada guru yang mengajar. Aku sedikit lega mengetahuinya. Setidaknya aku tidak mendapat hukuman hari ini.

Namun tiba-tiba mataku tertumbuk pada sesuatu. Aku geram. Mataku menyipit. Hidungku kembang kempis, dan wajahku panas. Aku melihat mereka! 3 orang menyebalkan yang aku temui pagi tadi! Ya Tuhan… ini benar-benar cobaan untukku. Mereka duduk di bagian tengah. Sangat mencolok dengan wajah mereka yang khas. Bahkan Pikachu sudah bergabung dengan mereka. Aku tak tahu kapan ia masuk ke dalam kelas. Yang aku tahu, aku sempat melamun cukup lama untuk menilai kelas ini. Sampai-sampai aku tak sadar, kapan Pikachu masuk. Parahnya, aku harus satu kelas dengan mereka semua.

Mereka semua – kecuali si Pirang yang sedang asik tertidur, kurasa – menoleh ke arahku. Pikachu menepuk kursi kayu di sebelahnya, isyarat bahwa aku diminta untuk duduk di sana. Aku membuang muka, aku tidak mau berurusan lebih jauh dengan 3 namja konyol tadi. Namun, sesaat aku melihat sekeliling tidak ada lagi kursi kosong yang tersisa. Satu-satunya jalan adalah duduk di samping Pikachu. Yap, mungkin hidupku akan berakhir sampai di sini dengan cara yang konyol.

“Duduklah,” kata Pikachu setelah melihatku hanya berdiri di samping kursi.

“Gomawo,” jawabku sambil membungkuk.

Aku sangat canggung. Aku belum mengenal siapapun di sini. Bahkan aku pun belum mengetahui nama Pikachu yang sebenarnya. Aku tidak berani bertanya. Aku malu. Bagaimana tidak? Sejak tadi aku hanya marah-marah padanya tanpa tahu nama aslinya dan kali ini aku mau bertanya siapa namanya? Jangan konyol! Ya Tuhan, tolong aku untuk mendapatkan teman yang normal.

“Jo Kwangmin-imnida,” kata Pikachu yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Seperti dia bisa membaca pikiranku.

“Ah, Shin Neul Ni-imnida,” jawabku gugup.

“Noh Min Woo-imnida. Mannaseo ban-gapsseumnida” kata namja imut yang sekarang ku ketahui namanya. Aku melirik namja satunya lagi, Si Pirang yang masih sibuk bermimpi. Mengingatkanku kembali pada kejadian pagi tadi ketika dia mengatakan bahwa aku adalah yeoja aneh.

“Dia Jo Youngmin, memang dia sering tidur di mana saja,” kata Min Woo dengan senyum manisnya.

“Kalian… ngg.. kembar?” pertanyaan bodoh itu sepertinya kutujukan kepada Pika… ngg Kwangmin maksudku.

“Menurutmu?” jawabnya sarkatis.

“Hebat! Di hari pertamaku sekolah, aku sudah bertemu dengan kalian. Parahnya lagi, aku dihadapkan oleh 2 orang Pikachu yang kembar dan menyebalkan! Aku akan menghadapi masa SMA yang buruk!” kataku bersungguh-sungguh. Mereka tertawa.

“Sudahlah. Kami sebenarnya baik dan menyenangkan, kok. Kau akan merasakannya nanti! Hahaha!“ Min Woo tertawa. Matanya semakin sipit.

“Kenapa tadi kau sendirian?” tanyaku kepada Kwangmin.

“Apanya?”

“Ketika kau mengerjaiku tadi dengan mengajakku berkeliling satu sekolah. Kenapa kau tidak bersama mereka?“ kataku sarkatis.

“Jadi kau mau kami bertiga yang mengerjaimu? Baiklah jika itu maumu,“ jawab Kwangmin sambil mengedip jahil. Rasanya aku ingin memukul kepalanya dengan batu! Huh!

“Annyeong Haseyo,”. Kami berbalik. Seorang yeoja jangkung berdiri di belakang kami. Wajahnya menarik dan cantik menurutku. Rambut lurus cokelat terang panjangnya digelung ke atas, membuatnya semakin anggun. Matanya berwarna cokelat terang senada dengan rambutnya. Aku jadi minder sendiri. Ku pikir hanya aku yang tidak menarik di sini. Lihat saja penampilanku. Rambut hitam lurus pendek ini sama sekali tidak menarik. Mataku hitam besar. Kulitku tidak seterang dirinya. Dia wanita yang sangat… sempurna.

“Hwang Ni Young-imnida,” kata yeoja itu kepada kami berempat–kecuali Youngmin yang masih tidur sejak tadi pagi–.

“Shin Neul Ni-imnida,” jawabku sambil mengenalkan 3 namja menyebalkan ini.

“Boleh aku bergabung dengan kalian? Aku belum punya teman di sini,“ katanya memelas kepada kami.

“Ne. Dengan senang hati,” jawabku. Senang rasanya memiliki teman yeoja. Setidaknya jika aku dikerjai oleh 3 namja ini, ada teman yang bisa membantuku.

“Youngmin-ah. Bangun! Kita punya teman baru di sini!,“ kata Min Woo membangunkan Youngmin dengan wajah super imutnya. Haruskah seperti itu? -_-

“Hoaahhmmm…” Youngmin terbangun dan meregangkan tubuhnya. Wajahnya yang sangat mirip dengan Kwangmin membuatku tertawa sendiri dalam hati. Apakah wajah Kwangmin juga seperti itu ketika bangun tidur? Eh, tunggu! Apa yang barusan ku pikirkan?

Kami berbincang-bincang sepanjang jam di sekolah. Kami saling berbagi cerita satu sama lain. Aku baru tahu bahwa Youngmin itu hyung dari Kwangmin. Jarak mereka berdua hanyalah 6 menit. Mereka senang melakukan hal bersama-sama sejak kecil. Satu hal lagi, Youngmin dan Min Woo sangat cerewet! Selalu mereka berdua yang bercerita. Kwangmin hanya diam dan sesekali menambahkan. Aku jadi kagum sendiri kepada 2 sosok Pikachu kembar menyebalkan ini. Mereka kembar, tapi memiliki kepribadian yang jauh berbeda satu sama lain. Ni Young juga bukan termasuk orang yang suka berbicara, tapi sekalinya dia berbicara topik yang ia bicarakan pastilah sangat asik. Min Woo benar, mereka termasuk orang-orang yang menyenangkan. Aku sedikit melupakan kejadian memalukan tadi pagi. Bagaimanapun juga, mereka telah berjanji untuk merahasiakannya kepada siapapun.

***

To Be Continue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s